TIMES SIBOLGA, JAKARTA – Psikolog menyebut kesepian berdampak nyata terhadap kesehatan mental dan cara kerja otak seseorang. Hal ini karena kesepian sebagai bentuk rasa sakit sosial, diproses otak dengan cara serupa rasa sakit fisik akibat cedera.
Medical Daily pada Kamis (8/1/2026) melaporkan, sejumlah penelitian menunjukkan area otak yang aktif saat seseorang mengalami penolakan sosial sama dengan area yang aktif ketika tubuh merasakan nyeri.
Respons ini diyakini berkembang secara evolusioner untuk mendorong manusia kembali membangun keterhubungan sosial.
Namun, isolasi emosional yang berlangsung lama membuat otak berada dalam kondisi waspada berkepanjangan. Situasi ini meningkatkan sensitivitas terhadap rangsangan negatif dan menurunkan kepercayaan terhadap orang lain.
Kesepian juga memicu aktivasi sistem stres di otak. Perasaan tersisih dipersepsikan sebagai ancaman, sehingga tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, mudah marah, serta menurunkan daya tahan tubuh.
Dampak Negatif Kesepian Berkepanjangan
Dari sisi kognitif, individu yang merasa kesepian cenderung menafsirkan isyarat sosial secara negatif. Pesan singkat atau ekspresi wajah netral sering dipersepsikan sebagai penolakan. Pola ini memperkuat penarikan diri dan memperdalam isolasi emosional.
Kesepian juga berdampak pada harga diri. Minimnya interaksi bermakna mengurangi umpan balik sosial yang positif, sehingga menurunkan motivasi dan memperburuk suasana hati. Otak merespons rasa sakit emosional ini secara nyata, setara dengan ketidaknyamanan fisik.
Menurut National Institutes of Health, kesepian yang berkepanjangan berkaitan erat dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan stres kronis. Secara psikologis, kesepian memicu ruminasi atau pengulangan pikiran negatif tentang diri sendiri dan masa depan.
Penelitian juga menunjukkan kesepian kronis dapat mengganggu perhatian dan daya ingat. Individu yang mengalami isolasi emosional cenderung memiliki waktu reaksi lebih lambat dan fleksibilitas kognitif yang menurun karena beban emosional menyita kapasitas mental.
Kesepian dan Depresi: Beda Tapi Berkaitan
Meski sering berkaitan, kesepian dan depresi merupakan kondisi berbeda. Kesepian muncul akibat kebutuhan akan keterhubungan yang tidak terpenuhi, sementara depresi melibatkan faktor biologis dan kimiawi di otak. Namun, kesepian yang berlangsung lama dapat memicu episode depresi.
Penanganan kesepian memerlukan pendekatan sosial dan psikologis. Psikolog menekankan pentingnya membangun hubungan yang bermakna, bukan sekadar banyaknya interaksi. Aktivitas kelompok, relawan, dan komunitas minat dinilai efektif memperluas koneksi sosial.
Pendekatan kognitif perilaku juga membantu individu mengenali dan mengubah pola pikir negatif terkait relasi sosial. Sementara itu, praktik mindfulness dan welas asih terhadap diri sendiri dapat meredakan tekanan emosional akibat kesepian.
Para ahli menegaskan koneksi digital tidak sepenuhnya menggantikan interaksi tatap muka. Keterhubungan langsung dinilai lebih efektif menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan.
Kesepian dipandang sebagai respons terhadap kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi. Psikolog menilai upaya membangun kembali keterhubungan sosial berperan menekan stres dan menjaga kesehatan mental. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Hindari Kesepian Demi Menjaga Kesehatan Mental dan Otak
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Ronny Wicaksono |